Monday, September 27, 2010

corrosion monitoring

On - line corrosion monitoring (kumpulan diskusi migas)

andu abdul

saya sering mendengar istilah on -line corrosion monitoring, dari beberapa perusahaan seperti BP de el el .

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana methode inspeksinya, apakah menggunakan inteligent pig atau ada cara lain yang lebih efektif untuk mengetahui sejauh mana internal korosi menyerang sebuah peralatan, apakah Online corrosion monitoring ini dapat diperlakukan untuk semua peralatan termasuk, Heat exanger, pressure vessel atau hanya untuk pipa penyalur saja .

Mohon pencerhaannya . . . .


Awaluddin Berwanto

Untuk subsea pipeline ada technology untuk melakukan on-line monitoring dengan menggunakan system corrosion monitoring system (CMS) yg dapat mengirimkan data secara on-line ke control room, seperti corrosion rate. Sebagai contoh, ada technology yg disebut RPCM (Ring Pair Corrosion Monitoring) CEION dari CORMON dan Field Signature Method (FSM) dari ROXAR ASA.

Silahkan mengunjungi website kedua technology provider itu untuk detailnya, terutama untuk applikasi di peralatan produksi lain (HE, PV) di off-shore dan on-shore.


Mariyanto saja

Sedikit menambahkan....
Untuk system corrosion monitoring sendiri bisa dilakukan secara manual ataupun elektrikal.
Secara Manual:bisa dengan menggunakan coupon atau sejenisnya.
Secara Electrical:Bisa menggunakan ER atau LPR Probe.Setelah selang beberapa lama,datanya di download dengan menggunakan data logger lalu bisa diupload ke PC.Dari situ bisa didapatkan corrosion ratenya.Corrosion rate didapatkan dari hasil perbandingan antara nilai sample dan nilai check pada data loggernya.

Untuk referansi ttg corrosion bisa search di Cosasco(USA),Cormon(Inggris)dan korosi specindo(Indonesia). Sekian infonya,apabila ada kesalahan atau kekurangan harap dimaklumi.


pje704748@batamec

Salam kenal pak Mariyanto,

Saya pernah dengar monitoring corrosion monitoring tapi saya belum pernah operasikan alatnya seperti ER atau LPR probe,

Mau tanya ER atau LPR Probe ini apakah prinsipnya seperti Ultrasonic, pak?

Mohon petunjuknya dan info dalam operasi dan perhitungan dlm corrosion
monitoring dgn alat ini.

Terima Kasih

Mariyanto saja

Salam kenal juga pak Nurmansyah,
ER atau LPR Probe itu lebih cocok dikenal sebagai sensornya.Di ER atau LPR tersebut ada elektrode yang berfungsi untuk memberikan
sinyal yang kemudian akan menterjemahkan sinyal tersebut menjadi sinyal digital seperti yang sudah disampaikan oleh pak Adha Novriasyah setelah di connect dengan Transmitter.Pada ER dan LPR tersebut terdapat thickness.Thickness ini ketebalan eleman dari masing2 probe ER/LPR tergantung jenisnya.
Thickness ini diletakan sesuai dengan aliran/flow oil/gasnya.Sehingga selang beberpa bulan akan keliatan thickness yang berkurang ketebalanya setelah terkena corrosion.Dari situ bisa diliah datanya.Corrosion ratenya sendiri bisa dilihat antara perbandingan sample dan nilai checknya terus dibuat rata2.Apabila ingin melihat corrosionya dalam setahun,maka ada rumusnya:

selisih pembacaan awal dan akhir/selisih waktu pembacaan awal dan akhir*365 hari.
atau delta metal loss/delta time*365.
Sekian infonya,semoga bermanfaat.Mungkin ada yang bisa menambahkan....


pje704748@batamec


Salam kenal pak Andu,

Info sedikit, sepengetahuan saya. corrosion monitoring dgn metode analisa corrosion coupon dan metode analisa air formasi. Coupon ini seperti lempengan logam yg dipasang hold coupon di sepanjang pipeline dan flow line yg letaknya terdekat input separator di proses CPP. Corrosion coupon dimonitoring berskala, dgn cara coupon ini diangkat dr holding coupon dan di analisa dan analisa air formasi alatnya spectrometer dll, dan perhitungan corrosion or scale growth.Dari perhitungan corrosion or scale growth ini kita dapat mengetahui dan menentukan schedule untuk pencegahannya dengan corrosion & scale inhibitor or pigging dll.


Adha Novriansyah


Wa'alaikum salam.. Pak Amrul....

Sedikit berbagi pengetahuan. Sesuai dengan istilahnya pak, on line corrosion monitoring, technology ini menyajikan data2 korosi secara on line. Namun tentu saja tetap ada interval waktu penyajian data, saya tidak tahu yang terbaru sudah berapa cepat penyajian datanya. Sependek pengetahuan saya, masih dalam orde menit (CMIIW). Banyak teknologi dibidang ini pak beberapa diantara-nya menggunakan metode Electrical Resistance (ER), Field Signature Method (FSM), Linear Polarization Resistance (LPR), Electrochemical Noise (ECN), dll. Manufacture (vendor)-nya juga bermacam-macam, Honeywell, Rohrback-Cosasco, Korosi Specindo, dll. Secara singkat, beberapa teknologi ini (ER, LPR) menempatkan electrode (probe) pada fluida yang ingin diketahui parameter korosifitasnya. Electrode ini akan memberikan sinyal pada transmitter, yang kemudian akan menterjemahkan sinyal tersebut menjadi sinyal digital sehingga bisa ditampilkan pada monitor berupa angka numeric.

Jadi dengan teknologi ini, kita bisa mengetahui kondisi korosifitas fluida untuk mengetahui seberapa besar (rate) uniform corrosion, dan bahkan beberapa sudah bisa menghitung pitting index sebagai parameter dari kemungkinan terjadi pitting corrosion (localized corrosion).

Sependek pengetahuan saya, teknologi ini bisa di aplikasikan pada semua peralatan, tinggal mengatur masalah teknik pemasangan (instalasi) saja.
Untuk detail-nya mungkin bapak bisa menghubungi website dari manufacturing (vendor) dari alat2 tersebut.


Triez

Wah keren teknologinya..untuk pipa subsea dan seawater yg menggunakan sacrificial anode gimana,pak?bisa ga di monitoring?

Klo boleh tao kira2 bagaimana model instalasinya,trus kisarannya berapa dolar untuk estimasi,pak?
Mohon maaf sebelumnya klo udah ada jawaban update.


Harmanto Soebawi

Masalahnya Mas Tris,
Apakah data in-lin corrosion itu sedemikian pentingnya sehingga harus ditransmit ke pusat pengendalian (Control Room) untuk kemudian bisa dibaca ke masing2 terminal komputer yang ada via technology PI?
Apakah channel untuk transmiternya itu cukup untuk mengirim signal tersebut?
Apakah ada data online lainnya yang lebih penting (misalnya % posisi choke valve) yang perlu didulukan?
Intinya kalo data tersebut sudah dalam bentuk signal elctronic (analog maupun digital) signal ini bisa ditransmit via radio ke tempat lain. Teknologi transmisi data ini bukan barang baru (jaman baheula) dipakai khusunya untuk Explorasi offshore.
Jadi misalnya untuk sacriificial anode kalo memang voltmeter sudah ditempel di anode maupun struktur, signal dari Voltmeter itu yang akan dikirim. Masalahnya dimana tempat naruh voltmeter kalo di laut? atau apa tidak hilang kalo ditaruh di darat?
Apakah tidak lebih murah menyuruh orang untuk mengukurnya langsung?
Karena pada dasarnya ERP (electric Resistance Probe) dsb itu sekedar probe="gauge" yang harus diambil signalnya lewat data acquisition tool (dalam bidang korosi mereka menyebutnya RDC (Remote Data Collector)). Data dari RDC inilah yang nantinya ditransfer ke tempat lain.
Belum lagi probe itu punya toleransi kesalahan yang lebih tinggi, dibanding CC (Corrosion Coupon)
Atau kalo ketebalan pipa pakai sensor UT-Mate, kemudian signalnya (bisa perdetik) ditransmit dan dibaca ke masing2 terminal komputer.

Bagaimanapun teknologi yang terlalu rumit alat lebih sulit untuk dihandle dan diperbaiki.

Itu hanya sekedar pemikiran pesimis saya.


ifan rifandi

Jadi pengen urun rembuk nih.
On line corrosion monitoring = memonitoring korosifitas dari fluida didalam pipa dimana pembacaan/ informasi corrosion rate/ monitoring corrosionnya dilakukan tanpa men-shut-in kan pipa tsb.
Metodanya banyak, yg umum digunakan adalah coupon dan probe.
Probe untuk memonitor corrosiveness fluida yg umum digunakan ada 3 jenis. Linear polarization probe (LPR), Electric resistance probe (ER) dan enhance ER probe.

Mekanisme probe (singkatnya):
LPR biasanya ada 2 atau 3 elektroda. salah satu elektroda ini diberi arus listrik (DC) yg sangat kecil (sourcenya didalam probe nya) sehingga elektroda tsb mengalirkan arus ke elektroda lainnya. karena elektroda tsb jg terkorosi maka ada arus tambahan (i corr) sehingga i corr ini bisa diketahui dari arus (i total) yg terukur dikurangi arus (i reff) yang di supply. arus ini yang dihitung sehingga didapatkan corrosion rate. (kira2 begitulah). Kelemahannya : LPR probe harus di expose di fluida yg mempunyai conductivitas (elektrolit) yg tinggi (biasanya fluidanya air. Bila antar elektroda tsb terjadi kontak/ short atau malah ter-isolate oleh minyak misalnya, maka fungsinya jadi tidak bagus.

ER probe prinsipnya sama dengan coupon, yaitu menggunakan metoda kehilangan berat. Bila elektroda probe terkorosi maka akan ada pengurangan diameter elektroda. Dengan rumus R = rho (L/A), maka tahanan listrik dari setiap perubahan diamater elektroda bisa diketahui (dari arus listrik yg terbaca), sehingga corrosion rate dari fluida tsb bisa diketahui.
Teknis nya ER (convensional) probe di design dibagi dalam 1000 division (life span). corrosion rate juga bisa dibaca dari pengurangan division ini dibagi time exposurenya.
Untuk memfungsikan probe ini setelah dipasang, perlu di set up interval time untuk merecord data yang dikerjakan/ di proses probe tsb. Sesuai dengan mekanisme nya, alat utk mensetting & mendown load nanti nya tentu saja berbeda. Data yg di record probe tsb bisa di spot down load dgn down-loader nya atau di collect dulu di Remote Data Collector (RDC), dimana nantinya di down load juga dengan down-loader nya. Data yg di down-loader kemudian di export ke komputer yg sudah di install software untuk menterjemahkan data tsb sehingga diperoleh corrosion rate nya (mpy atau mmpy).
Mudah2 an share saya bisa menjawab yang ditanyakan.

andu abdul

Terima kasih pa Ardian dan rekan -rekan semua
yang telah sudi meluangkan waktunya untuk memberikan informasi melalui milis ini semoga ada mamfaatnya


No comments: